Beranda > Opini > Welcome Back To Indonesian Native Fisheries

Welcome Back To Indonesian Native Fisheries

Jumlah ikan di dunia sampai saat ini tercatat 32.700 jenis, sedangkan Indonesia memiliki 4.715 jenis. Artinya Indonesia mewakili 14,4% jenis ikan di dunia. Ini menunjukkan bahwa perikanan di Indonesia adalah multijenis. Dibandingkan dengan Negara Jepang (4.017 jenis), China (3.535 jenis) dan Amerika (3.094 jenis), Indonesia memiliki keragaman jenis ikan yang tertinggi di dunia.

Jenis ikan di Indonesia terdiri dari 3.590 jenis ikan laut, 1.208 jenis ikan air tawar, 105 jenis pelagik, 322 jenis ikan laut dalam, 2.048 jenis ikan karang, 703 jenis ikan ekonomis penting, 382 jenis ikan terancam punah, 146 jenis ikan rentan punah, 125 jenis endemic, dan 20 jenis ikan asing (introduced).

Perikanan multijenis adalah perikanan yang mengeksploitasi atau menangkap lebih daripada satu jenis target tangkapan. Persoalan multijenis di Indonesia banyak berada pada perikanan laut, dengan permasalahan utama pada ikan-ikan di perairan karang. Permasalahan yang umum dihadapi di perairan tropis adalah banyaknya jenis ikan yang hidup dalam satu satuan waktu dan tempat yang sama dengan jumlah stok yang sedikit, sehingga berakibat kapal menangkap beberapa jenis ikan dan sulit menentukan target spesies. Bahkan target tangkapan lebih sedikit dibandingkan dengan tangkapan sampingan (by catch).

Sebanyak 528 jenis ikan terancam punah dan memerlukan tindakan konservasi di Perairan Indonesia dan ini merupakan masalah serius yang memerlukan perhatian khusus. Persoalan perikanan air tawar yang terjadi disebabkan karena berkurangnya luas area perairan umum yang digunakan untuk kegiatan rumah tangga dan industri, penyempitan sungai-sungai dan danau akibat adanya sedimentasi dll. Banyaknya ikan asing yang masuk ke perairan tawar akan mengakibatkan timbulnya kompetisi terhadap ikan asli kita.

Pada tahun 1980an jumlah ikan laut ekonomis penting di Indonesia hanya mencapai 36 jenis, sedangkan saat ini mencapai 703 jenis. Ikan yang semula tidak masuk kategori ekonomis, saat ini sudah menjadi ekonomis dan sering dicari orang. Ikan laut dalam yang berjumlah 322 jenis, memiliki laju pertumbuhan dan reproduksi rendah serta rentan terhadap tekanan penangkapan berlebih, komoditas ini memerlukan pengelolaan khusus. Ikan-ikan di perairan karang yang berjumlah besar, umumnya dieksploitasi dengan tidak ramah lingkungan (bom, sianida, dll). Data tersebut  menunjukkan Indonesia sudah memasuki level kritis pengelolaan perikanan dimana pemanfaatan sumberdaya ikan dengan hasil tangkapan yang tinggi, tetapi upaya penangkapan juga berlebihan (over-exploitation).

Pengelolaan perikanan di Indonesia secara resmi dimulai tahun 1975 dengan dikeluarkan Statistik Perikanan Indonesia yang didesain oleh Prof. Yamamoto. Sejak saat itu dibuat keputusan pengelolaan perikanan, sebagai berikut : 

  1. Keputusan manajemen dalam arti yang sangat sempit, yakni introduksi regulasi seperti kuota hasil tangkapan, ukuran minimum, dsb.
  2. Tindakan lain yang dirancang untuk lebih melindungi kepentingan khusus dari kelompok tertentu, misalnya pelarangan “trawl“ dalam suatu jarak tertentu dari pantai untuk melindungi nelayan tradisional, dan 
  3. Keputusan-keputusan untuk mendorong perkembangan perikanan, misalnya kaitannya dengan penanaman modal.

Selain  ketiga macam keputusan pengelolaan tersebut ditambahkan juga adanya kontrol sosial terhadap usaha penangkapan yang secara tradisional telah berlaku di daerah-daerah tertentu, misalnya sistem sasi yang terdapat dibeberapa wilayah timur Indonesia. Tindakan pengelolaan dalam artian yang sempit jarang dilaksanakan di perikanan tropis, misalnya pengendalian langsung terhadap penangkapan melalui kuota, atau pembatasan izin (lisensi) yang diberikan.

Apakah Pengelolaan Perikanan Indonesia sudah menunjukan hasil yang baik???

Data di atas menunjukan betapa jumlah ikan ekonomis penting yang semakin tinggi dari tahun ke tahun, dan banyaknya jenis ikan yang terancam punah menunjukkan kegagalan pengelolaan perikanan di Indonesia. 

Kita menjadi kuatir jika suatu waktu, pengelolaan perikanan akan dilakukan secara individu dengan jargon “Sink every other boat but mine” (tenggelamkan setiap kapal kecuali milikku) (Cushing, 1977). Pilihan pengelolaan terbaik saat ini adalah kembali pada Indonesian Native Fisheries.

 *) Gambar : Schematic profile on fish resources

 

 

 
 

The Time Is:

 
 
 

 

Powered By Octopuss | Design By Octopuss 2013

 
Pilihan Bahasa