Beranda > Opini > The Origins of Fisheries Science

The Origins of Fisheries Science

(Dedicates to Prof Dr. Ir. Daniel R. Monintja)

Ilmu Perikanan dan manajemen perikanan adalah dua hal yang berbeda nyata. Ilmu perikanan merupakan integrasi dari multidisiplin ilmu yang meliputi tingkah laku hewan, ekologi, dan dinamika populasi yang berkaitan dengan proses lingkungan untuk memprediksi kemampuan populasi hewan dalam merespon laju kematian akibat penangkapan ikan. Tujuan ilmu perikanan adalah mempelajari keanekaragaman hayati perikanan sesuai fungsi ekosistemnya sebagai keseimbangan alam dalam jangka panjang. Sebagian hasil kerja ilmu perikanan dapat diaplikasikan dalam manajemen perikanan, baik untuk kebijakan umum, maupun tujuan khusus diberbagai pemangku kepentingan. Fokus manajemen perikanan adalah bagaimana mengelola nelayan atau usaha perikanan agar tetap menguntungkan dalam jangka pendek atau menengah.

Namun dalam kurun waktu lima puluh tahun ini, perikanan dunia (termasuk Indonesia) lebih banyak mendiskusikan manajemen perikanan dibandingkan ilmu perikanan. Sangat jelas aspek ekonomi menjadi kunci utama dalam setiap aspek perikanan. Mulai dari intensitas produksi (penangkapan) ikan, alat-alat perikanan, biaya jangka pendek, dan keuntungan jangka panjang. Studi kasus di Indonesia juga menunjukan pengalaman yang sama, perikanan Indonesia dikendalikan oleh investasi yang murah pada nelayan dengan keuntungan yang tinggi pada tingkat pengusaha. Keadaan terkini yang lebih memprihatinkan lagi adalah perumusan kebijakan perikanan melibatkan  bahkan  didominasi oleh pengusaha yang berlabelkan asosiasi perikanan. Kondisi ini sangat berbahaya bagi keberlangsungan sumberdaya perikanan Indonesia kedepan. Pertanyaannya adalah : WHO OWNS THE FISHERY AND FOR WHOM IS IT MANAGED?

Ilmu perikanan mulai banyak diperbincangkan sejak tahun 1890, dimana para ahli biologi memperingatkan akan bahaya overfishing. Kumpulan pengetahuan ilmu perikanan digunakan sebagai acuan pemanfaatan stok ikan oleh para nelayan. Pada awalnya ilmu biologi perikanan menjadi bahan pertimbangan utama dari manajemen perikanan. Saat itu, sudah dipahami adanya persoalan ketidakpastian dalam ilmu perikanan. Ketidakpastian tersebut terlihat dari hasil tangkapan yang berfluktuasi, perubahan parameter lingkungan yang sulit diprediksi, dan adanya perubahan struktur dasar perairan.

Pada tahun 1920-1945 adalah pembuktian ketidakpastian ilmu perikanan di Amerika. Industri perikanan Amerika membuka pengalengan sardine di California pada tahun 1920, dimana saat itu stok ikan sardine besar sekali. Akhir tahun 1930, California Fish and Game (CFG) Fisheries Laboratory dan the US Bureau of Fisheries Laboratory (USBF) memperingatkan dampak eksploitasi stok sardine di California. Akhirnya tahun 1945, stok sardine di California colaps. Kasus hancurnya stok ikan di Newfounland, Canada tahun 1980 juga menjelaskan ketidakpastian ilmu perikanan. Berbagai kasus overfishing sebelumnya sudah pernah terjadi diberbagai belahan dunia, seperti : perikanan Rusia tahun 1850, perikanan Norwegia tahun 1870, perikanan Prancis tahun 1872, perikanan Inggris tahun 1884,  dan negara-negara lainnya. Pendekatan kehati-hatian menjadi kunci sukses bagi negara yang ingin mengembangkan industri perikanannya.

Pengembangan ilmu perikanan di Indonesia pertama kali dilakukan oleh Pieter Bleeker (1819–1878), seorang dokter medis berkebangsaan Belanda yang bekerja untuk tentara Hindia Belanda antara tahun 1842 hingga 1860. Kontribusinya antara lain menghasilkan lebih dari 400 tulisan mengenai ikan di Perairan Indonesia dan mendiskripsikan lebih dari 1.100 jenis ikan baru, serta menerbitkanya pada “Atlas Ichtyologique des Indes Orientales Nederlanaises”  sebanyak 36 volume. Lebih dari 12.000 spesimen ikan yang dikoleksi oleh Bleeker disimpan pada Museum Natural History di Leiden, Belanda.

Setelah era kemerdekaan, pengembangan ilmu perikanan di Indonesia dilanjutkan dengan didirikannya Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor pada tanggal 1 September 1963. Prof. Dr. Ir. Daniel R. Monintja, Guru Besar Emeritus pada Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (PSP-FPIK) adalah salah satu orang yang turut serta mengembangkan ilmu perikanan di Indonesia. Kita mengucapkan terima kasih kepada beliau yang telah mengabdikan ilmunya selama lebih dari 50 tahun dibidang Perikanan.

Save Our Fisheries Resources & Environtment

*) Gambar : Simplified pyramid of Antarctic life begins with plankton plant (bottom) and ends with man. Energy loss at each step is bout 90%; 1,000 pounds of plant plankton produce 100 pounds of animal plankton, 10 pounds of whale and one pound of man.[Book : Life at the sea, 1954]

 

 

 
 

The Time Is:

 
 
 

 

Powered By Octopuss | Design By Octopuss 2013

 
Pilihan Bahasa