Beranda > Opini > Malacca Straits Had Been Declared As The  Biggest Fish Production In The World

Malacca Straits Had Been Declared As The  Biggest Fish Production In The World

Tahun 1860 adalah awal mula eksploitasi sumber daya perikanan di Perairan Selat Malaka, yang dilakukan oleh sekelompok kecil nelayan bangsa China. Kelompok ini selanjutnya menetap di Bagan Si Api Api, yang saat itu berada dalam wilayah kekuasaan Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda dan Terengganu (Malaysia) dibawah kekuasaan Pemerintahan Kolonial Inggris. 

Pemerintah Kolonial Belanda mulai menerapkan kontrol dan pembayaran pajak pada nelayan Bagan Si Api Api sejak tahun 1880. Investigasi pertama kali terhadap eksploitasi perikanan Selat Malaka dilakukan pada tahun 1882. Disimpulkan bahwa Bagan Si Api Api adalah "a great profit for the [Netherlands Indies] treasury, and, certainly, a gold mine for the farmer"---ungkapan kekaguman yang luar biasa terhadap kekayaan sumber daya perikanan kita.

Pada tahun 1898, Bagan Si Api Api sudah mengekspor 12.700 ton ikan asin ke berbagai negara, dan tahun 1904 expor meningkat tajam menjadi menjadi  25.900 ton ikan asin ditambah 2.700 ton  belacan (terasi). Pada masa tersebut, sumber daya perikanan Selat Malaka sudah menjadi perhatian dan buah bibir dunia.  Nilai ekpor ikan asin dari Selat Malaka tahun 1910 mencapai $ 464,000 dengan jumlah 2.500 ton, dan tahun  1914 meningkat tajam mencapai $ 781,000. Ikan asin Selat Malaka sudah menjadikan komoditas expor unggulan pemerintah Hindia Belanda. Puncak kejayaan perikanan Selat Malaka terjadi  pada tahun 1920 – 1930, dimana Selat Malaka menjadi produsen perikanan terbesar dunia, dengan pusat industri di Bagan Si Api Api.

Setelah era kemerdekaan, Selat Malaka tetap menjadi pusat produksi ikan Negara Indonesia. Pada periode tahun 1975- 1980, hasil perikanan Selat Malaka mencapai 42 %  total produksi ikan Indonesia.  Namun hasil analisis data 1969 – 1975 menunjukan bahwa jumlah upaya penangkapan Selat Malaka sudah berlebihan. Seminar Internasional (Sponsored by South China Sea Fisheries Development and Coordinating Programme, SCS) tetang sumber daya  ikan di Selat Malaka tahun 1976, sudah memperingatkan akan bahaya over fishing di perairan ini. Sejak tahun 1985 produksi ikan Indonesia dari Selat Malaka terus mengalami penurun dari tahun ke tahun, hingga akhirnya data tahun 2012 menunjukan produksi perikanan dari Selat Malaka hanya mencapai 6,2 % dari total produksi ikan Indonesia. 

Adakah Yang Keliru Dalam Pengelolaan Perikanan Indonesia Di Perairan Selat Malaka ???

Pengelolaan Perikanan Selat Malaka Di Indonesia Dan Malaysia  

Pasca Indonesia dan Malaysia  merdeka, pengelolaan perikanan Selat Malaka didominasi kedua Negara. Meskipun ada Singapura, namun karena luas wilayah Perairan Singapura sangat terbatas maka kontibusinya juga menjadi sedikit. Pengelolaan perikanan Selat Malaka di Indonesia dikelola oleh tiga provinsi yaitu Aceh, Sumatera Utara dan Riau. Luas wilayah Perairan Selat Malaka yang dikelola Indonesia sekitar 55.000 km2. Sedangkan Selat Malaka yang dikelola Malaysia dilakukan oleh tiga negeri, yakni Kuala Terengganu, Pahang dan Penang. Luas wilayah Selat Malaka milik Malaysia lebih kecil dibandingkan Indonesia.

Titik awal permulaan pengelolaan sumber daya perikanan Selat Malaka terjadi pada periode 1955 – 1970. Pada Masa periode ini pengelolaan  perikanan Selat Malaka Indonesia dan Malaysia cenderung serupa. 

Pada periode 1970-1995, pengelolaan perikanan Selat  Malaka antara Indonesia dan Malaysia mulai berbeda,  kebijakan pemerintah Indonesia lebih memperhatikan kelestarian sumberdaya ikan dengan melarang penangkapan ikan yang menggunakan trawl di Selat Malaka. 

Periode 1995-2014 kebijakan Indonesia  cenderung diarahkan untuk terus meningkatkan produksi di Selat Malaka, dan tidak dapat mengontrol jumlah upaya penangkapan yang sesuai pada perairan ini. Sedangkan kebijakan Malaysia sangat memperhatikan kelestarian dengan cara reguler tahunan memasang selter sebagai area perlidungan ikan dan mengontrol jumlah upaya penangkapannya secara ketat. Pada periode ini pengelolaan perikanan Selat Malaka Malaysia lebih baik. 

Mari kita perbaiki pengelolaan perikanan Indonesia di Selat Malaka, agar mencapai puncak kejayaan menjadi produsen ikan terbesar dunia seperti dahulu. 

Save our fisheries resources & environment.

*) Gambar : Peta Selat Malaka dan Potensi Lestari di Selat Malaka

 

 

 
 

The Time Is:

 
 
 

 

Powered By Octopuss | Design By Octopuss 2013

 
Pilihan Bahasa