Beranda > Mitra Cendekia > Pengelolaan Dan Konservasi Tuna Sirip Biru Selatan (Thunnus maccoyii) Yang Tertangkap Rawai Tuna Di Samudera Hindia

Pengelolaan Dan Konservasi Tuna Sirip Biru Selatan (Thunnus maccoyii) Yang Tertangkap Rawai Tuna Di Samudera Hindia

Oleh Priyanto Rahardjo

Data komposisi jenis hasil tangkapan kapal-kapal rawai tuna dipantau pada dua lokasi pendaratan ikan Pelabuhan Benoa sejak tahun 1993. Di tempat tersebut dicatat jumlah ekor dan berat dari setiap jenis ikan tuna dan marlin yang didaratkan, baik ikan untuk ekspor maupun ikan yang dipasarkan lokal (rejected fish). Jumlah tuna yang diekspor dari Bali diperoleh dari Laboratorium Bina Mutu Dinas Perikanan Daerah Tingkat I Bali di Denpasar. Untuk mengetahui total tangkapan Tuna Sirip Biru Selatan (TSBS) yang diekspor dari Bali dilakukan ekstrapolasi dari total TSBS yang diekspor dengan total berbagai jenis/spesies tuna ekspor hasil tangkapan rawai tuna yang dipantau dengan total semua jenis tuna ekspor yang tercatat di Propinsi Bali dan TSBS didaratkan merupakan penjumlahan dari TSBS ekspor dan non ekspor.

Rawai tuna merupakan alat tangkap utama yang efektif dan selektif untuk menangkap jenis tuna sirip biru, dimana daerah penangkapannya di Samudera Hindia terletak pada koordinat 09o - 16o LS dan 100o - 128o BT. TSBS sering tertangkap di Laut Sawu dan Laut Timor, tetapi tidak pernah tertangkap di Laut Flores dan Laut Banda. TSBS dapat tertangkap sepanjang tahun, dengan puncaknya pada bulan September-Maret. Tujuan estimasi pendaratan tuna sirip biru selatan ini adalah untuk memberi masukan yang berakurasi tinggi untuk bahan pengkajian stok dan potensi sumberdaya tuna yang sangat menentukan hasil perhitungan potensi tuna seperti yang diinginkan oleh para penguasa dan pengelola sumberdaya tuna yang dimanfaatkan oleh banyak negara. Walaupun total produksi TSBS dunia terus menurun dari 81.605 ton tahun 1961 menjadi 13.083 ton tahun 1995, dan meningkat lagi menjadi 19.189 ton tahun 1999, tetapi produksi TSBS Indonesia terus meningkat dari 7,0 ton tahun 1986 menjadi 2.083 ton tahun 1999 yaitu nomor tiga setelaj Jepang dan Australia. Dan hasil estimasi pendaratan TSBS di Bali selama 6 tahun (1993-1998) berturut-turut adalah 768,5; 724,0; 753,2; 1.387,9; dan 2.170,0 tetapi terjadi penurunan pada tahun 1998 menjadi 1.343,7 ton.

Informasi selengkapnya silakan download di sini.

 

 

 
 

The Time Is:

 
 
 

 

Powered By Octopuss | Design By Octopuss 2013

 
Pilihan Bahasa