Beranda > Info Berita > Predator Dalam Sup

Predator Dalam Sup

Buat sesama bangsa ikan, hiu (atau yang lebih dikenal cucut dalam ilmu perikanan) mungkin predator ganas dan selalu lapar. Tapi buat nelayan, hiu tetaplah tambang uang dan sasaran empuk untuk dikail.

Bahkan begitu mudahnya, kadang dengan melempar kail tanpa umpan pun hiu bisa dijerat. Sistem penglihatannya yang buruk memang memaksa hiu berenang mencari arah dengan penciumannya. "Jadi pakai pancing tanpa umpan pun peluang menyenggolnya ada," kata Priyanto, peneliti senior di Balai Riset Perikanan Laut Indonesia Departemen Kelautan dan Perikanan.

Dari kail nelayan lalu berpindah ke mangkuk-mangkuk masakan Cina dan etalase toko-toko obat impor. Begitulah metamorfosis hiu saat ini. Priyanto mengatakan hiu dan pari tidak lagi hanya populer dengan hisit di dalam siripnya, tapi predator laut dalam itu juga mulai diburu untuk minyak hati, tulang, daging, sampai kulitnya.

Perburuan dan banderol harga bagian-bagian tubuhnya yang menggiurkan para nelayan tuna itu jelas membebani angka populasi hiu dan pari. Bayangkan, per kilogram sirip kering dari nelayan dihargai sekitar Rp 1 juta. Kalau hisit sudah dikeluarkan dari dalam sirip, harganya bisa melonjak jadi Rp 2-5 juta.

"Jadi, kalau tuna adalah pendapatan perusahaan pemilik kapal, sirip hiu jadi milik pekerja di kapal," ungkap Priyanto. "Lumayan sekali sebagai tangkapan sampingan."

Priyanto pernah mencatat, jenis hiu atau cucut dan pari yang berkeliaran di Perairan Indonesia mencapai 350 jenis. Tapi survei yang rajin dilakukannya sejak 1997 di Laut Jawa, mulai Muara Baru sampai Brondong, dekat Surabaya, hanya menemukan tidak sampai sepertiganya. "Hanya 77 spesies," katanya.

Hiu gergaji--yang merupakan jenis pari--dan hiu botol adalah dua jenis yang nasibnya Priyanto contohkan. Masing-masing pernah menjadi primadona di kalangan nelayan tuna di wilayah selatan Jawa. Tapi booming tidak bertahan lama--bukan, bukan karena tidak ada permintaan, melainkan memang buruan keburu habis. "Hiu dan pari itu tumbuhnya lamban, beranak sedikit saja, peluang punahnya sangat besar," kata Priyanto.

Itulah kenapa lewat survei yang dihimpun sejak 1997, Priyanto menyarankan agar jenis yang satu ini masuk kategori konservasi. Ikan-ikan itu harus diberi kesempatan untuk berkembang biak: ketika tertangkap harus dilepaskan kembali. Dan mungkin itu pula yang membuatnya sensitif terhadap isu-isu peneliti asing yang mencari-cari hiu dan pari Indonesia. "Kalau begini terus, ya, habis cucut dan pari kita," imbuhnya.

Yang Harus Diketahui :

  1. Hiu dan pari kadang sulit dibedakan. Tapi, yang jelas, insang pari ada di bawah tubuhnya, hiu di tepi.
  2. Hiu dan Pari tergolong ikan bertulang rawan
  3. Ada satu lagi jenis ikan bertulang rawan, yakni Chaimera. Hanya, jumlahnya jauh lebih sedikit. Dari 1.150 jenis yang ada di dunia, 500 digolongkan bangsa hiu, 600 pari dan sisanya Chaimera.
  4. Chaimera dulu pernah dianggap hiu, sekarang memiliki genus baru.

Sumber : Koran Tempo (Edisi Cetak; Senin, 9 April 2007; Hal. A13)

 

 

 
 

The Time Is:

 
 
 

 

Powered By Octopuss | Design By Octopuss 2013

 
Pilihan Bahasa