Beranda > Info Berita > Ketok Palu Jenis Baru Hiu Dan Pari Bukan Di Jurnal-jurnal Ilmiah

Ketok Palu Jenis Baru Hiu Dan Pari Bukan Di Jurnal-jurnal Ilmiah

Artikel berikut pernah diterbitkan di Koran Tempo (Edisi Cetak; Senin, 9 April 2007; Hal. A12) dengan judul "Menjaga Hiu dan Pari Indonesia", namun demikian masih cukup relevan dengan kondisi saat ini. Berikut petikan lengkapnya :

### Jakarta---Tempat kerjanya ada di sudut ruangan, Isinya tidak ada yang memikat mata. Hanya setumpuk rendah berkas-berkas yang menemani sebuah komputer lipat dan gelas berisi kopi yang sudah dingin di atas meja. Tidak semarak karena mungkin si empunya memang kebanyakan berada di laut.

Pemilik ruangan itu adalah Priyanto Rahardjo, peneliti senior di Balai Riset Perikanan Laut Indonesia Departemen Kelautan dan Perikanan. Tempo bertandang ke kantornya di Kompleks Pelabuhan Perikanan Samudera, Selasa siang lalu, gara-gara sebuah artikel yang bersumber dari negara tetangga.

"Sebenarnya...kalau dibilang keberatan, tidak juga," katanya membuka pembicaraan. Ia lalu mengambil koran ini tertanggal 2 Maret 2007 dari tumpukan teratas berkas-berkasnya. "Hati saya sebagai orang Indonesia dan posisi saya sebagai doktor pertama cucut dan pari di Indonesia yang memaksa saya bereaksi," dia menyambung.

Priyanto--yang hasil surveinya selama empat tahun di Laut Jawa sejak 2001 belum genap sebulan di uji secara terbuka dalam sebuah disertasi--tidak terima dengan "tingkah" tim peneliti dari Badan Penelitian Persemakmuran Australia (CSIRO). Mereka menggelar survei ke pasar-pasar ikan segar di Indonesia selama 2001-2006.

Hasilnya, mereka menemukan 20 jenis baru ikan cucut (hiu) dan pari. "Ini adalah penelitian mendalam pertama terhadap jenis hiu dan pari Indonesia sejak ilmuawan Belanda, Pieter Bleeker, melakukannya dan menemukan lebih dari 1.100 spesies pada 1842-1860," ujar William White, anggota tim peneliti, saat itu.

Priyanto menyangkalnya. Menurut dia, balai tempatnya bekerja sudah rajin mengeksplorasi kekayaan laut Indonesia, termasuk jenis cucut dan pari, sejak 1975. Di mata Priyanto, langkah White dan timnya itu pun tergolong terlarang. "Mereka warga Australia mengumpulkan spesimen di Indonesia," katanya. "Tidak etis." Klaim temuan jenis atau spesies baru juga tak lepas dari kecaman Priyanto. Menurut dia, belum ada tambahan dalam dalam daftar 1.150 spesies cucut dan pari di dunia hingga saat ini. "Kenapa dia asal 'declare' hanya karena sudah memuatnya dalam jurnal ilmiah?" katanya.

Priyanto lalu merunut langkah-langkah yang mesti dilakukan White dan kawan-kawannya apabila ingin membuktikan sebuah spesies baru. Spesimen, minimal empat ekor, harus dibawa berkeliling ke tujuh museum ikan yang mengkoleksi semua jenis ikan di dunia. Sebelumnya, spesimen tentu dibawa ke ahli lokal. "Jadi ketok palunya bukan di jurnal-jurnal," katanya. Lewat prosedur itu, Priyanto mengungkapkan peneliti Jepang bahkan ada yang harus menunggu 12 tahun agar temuannya diakui sebagai spesies baru. Jelas tidak mudah. Apalagi, Priyanto menambahkan, jenis hiu dan pari tidak seperti bangsa ikan lainnya yang bertulang sejati.

"Ikan-ikan itu, kata dia, sudah memiliki sistematika pembagian taksonomi yang jelas. Sangat bertolak belakang dengan hiu-pari. "Cucut dan pari berkembang terus. Kadang-kadang spesies dengan genus yang satu masuk genus yang lain. Masih berubah-ubah," Katanya.

Priyanto curiga jenis seperti hiu kucing Bali, pari hidung sekop Jimbaran, serta Hortle's whipray yang dikalim White dan teman-temannya sebagai spesies baru hanyalah jenis yang tidak biasa (uncommon species). "Spesies baru itu apabila dinyatakan memang berbeda dengan spesies lainnya sesuai dengan prinsip taksonomi," ujar Priyanto. " Ada beberapa saintis yang mungkin menemukan perbedaan warna dan menganggapnya sebagai spesies baru."

Sepanjang pengalamannya menyusuri Laut Jawa, Priyanto mengaku cukup sering menemukan spesies seperti itu. Yang dilakukan biasanya sebatas menambah angka 1, 2, dan seterusnya dibelakang nama spesies terdekat yang sudah diketahui. "Kadang-kadang ikan hiu saat dewasa berbeda dengan ketika masih belia. Kalau orang gegabah, itu bisa disangka spesies baru," tuturnya.

Priyanto akhirnya hanya berharap aksi klaim para peneliti asing tidak berujung pada mungkinan paten untuk mengeksploitasi hiu dan pari Indonesia. Ibarat pohon kelapa, hiu dan pari, kata Priyanto, sangat berharga bagian-bagian tubuhnya. Hisit di dalam siripnya berkhasiat sebagai antikanker, tulang dan minyak hatinya bisa untuk kosmetik, serta kulitnya bisa disulap jadi dompet.

"Itulah kenapa saya melihat jauh ke depan. Kenapa mereka masuk ke sini cari-cari itulah," katanya. ###

Saat ini Priyanto Rahardjo telah menjadi dosen di Sekolah Tinggi Perikanan. Kebiasaan mencermati pengelolaan sumberdaya ikan khususnya hiu dan pari, masih terus dilakukan. Dan tentunya juga diajarkan pada para mahasiswanya.

 

 

 
 

The Time Is:

 
 
 

 

Powered By Octopuss | Design By Octopuss 2013

 
Pilihan Bahasa